Bersih Desa Gandri 2026 Meriah , Kades Gandri Supriyanto dan Warga Bersatu Lestarikan Tradisi Leluhur Melalui Nyadran dan Pagelaran Wayang Kulit

 

Wayang Kulit Dalang RM Akbar Syahalam dengan Lakon “Wahyu  Trimanggolo”

Ngawi :ramahpublik.com– Pemerintah Desa Gandri, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi, menggelar rangkaian kegiatan Bersih Desa (Nyadran) Tahun 2026 yang berlangsung meriah dan penuh khidmat pada Kamis (28/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk melestarikan budaya warisan leluhur sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Sejak pagi hari, warga dari berbagai dukuh telah berkumpul untuk mengikuti tradisi slametan yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan bersih desa. Kegiatan diawali pukul 06.30 WIB dengan pelaksanaan slametan di Punden Dukuh Sobah.

Supriyanto Kepala Desa Gandri Kecamatan Pangkur Kabupaten Ngawi

Warga tampak antusias mengikuti doa bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat, keselamatan, dan hasil rezeki yang diberikan kepada masyarakat Desa Gandri.

Selanjutnya, pada pukul 10.00 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan slametan Dusun Ngepeh yang disertai pertunjukan seni tradisional Langen Bekso. Penampilan seni budaya tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang hadir. Selain menjadi hiburan rakyat, Langen Bekso juga menjadi sarana pelestarian budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Memasuki pukul 11.00 WIB, masyarakat kembali melaksanakan slametan di Punden Dusun Gandri. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit yang menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Bersih Desa Gandri tahun ini. Wayang kulit tidak hanya menjadi tontonan masyarakat, tetapi juga menjadi tuntunan yang sarat dengan nilai-nilai moral, budaya, dan kearifan lokal.

 

Pada malam harinya, tepat pukul 19.00 WIB, kemeriahan acara semakin terasa dengan digelarnya pagelaran wayang kulit di Lapangan Baru Desa Gandri yang menampilkan dalang kondang RM Akbar Syahalam. Ribuan warga diperkirakan hadir untuk menyaksikan pertunjukan yang menjadi puncak perayaan bersih desa tersebut.

Kepala Desa Gandri, Supriyanto, menyampaikan bahwa kegiatan bersih desa merupakan tradisi yang harus terus dijaga dan dilestarikan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah membuka dan membangun desa.

“Kehadiran dan gotong royong seluruh warga adalah wujud cinta kepada tanah kelahiran. Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya melestarikan tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat persatuan dan kebersamaan masyarakat Desa Gandri,” ujar Supriyanto.

Menurutnya, semangat kebersamaan yang tercermin dalam kegiatan nyadran menjadi modal penting dalam membangun desa yang harmonis dan sejahtera. Ia berharap tradisi ini dapat terus diwariskan kepada generasi muda agar nilai-nilai budaya, gotong royong, dan rasa memiliki terhadap desa tetap terjaga.

” Mari bersama-sama melestarikan tradisi leluhur dan mempererat silaturahmi dalam rangkaian Bersih Desa atau Nyadran ini. Sesuai semboyan yang kita pegang bersama, ‘Rukun Wargane, Resik Desane, Berkah Uripe’. Semoga Desa Gandri senantiasa diberikan keamanan, ketentraman, kemakmuran, dan keberkahan bagi seluruh warganya,” tambahnya.

Rangkaian Bersih Desa Gandri 2026 menjadi bukti bahwa tradisi budaya masih hidup dan mendapat tempat di tengah masyarakat. Selain sebagai ungkapan rasa syukur, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga sehingga tercipta kehidupan masyarakat yang rukun, damai, dan penuh kebersamaan.

Pagelaran wayang kulit menjadi puncak rangkaian Bersih Desa (Nyadran) Desa Gandri, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi, Kamis (28/5/2026) malam. Acara yang digelar di Lapangan Baru Desa Gandri tersebut menghadirkan dalang RM Akbar Syahalam dengan lakon “Wahyu Trimanggolo”, yang sarat akan pesan moral, kepemimpinan, dan harapan akan keberkahan bagi masyarakat.

Ribuan warga dari berbagai dusun tampak memadati lokasi pertunjukan sejak sore hari. Mereka antusias mengikuti rangkaian kegiatan bersih desa yang diawali dengan slametan di Punden Dukuh Sobah, Dusun Ngepeh, dan Punden Dusun Gandri sebelum berlanjut pada pagelaran wayang kulit sebagai acara puncak.

Kepala Desa Gandri, Supriyanto, mengatakan bahwa pagelaran wayang kulit bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan bagian dari upaya melestarikan budaya leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak untuk terus menjaga kebersamaan, gotong royong, dan nilai-nilai luhur budaya Jawa.

Menurutnya, lakon “Wahyu Trimanggolo” dipilih karena memiliki makna yang sangat relevan dengan kehidupan bermasyarakat dan pembangunan desa. Dalam pewayangan, wahyu diartikan sebagai anugerah atau petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sedangkan Trimanggolo dimaknai sebagai tiga kemuliaan atau tiga pedoman utama yang harus dimiliki seorang pemimpin maupun masyarakat dalam menjalani kehidupan.

Lakon tersebut mengandung pesan tentang pentingnya kebijaksanaan, kejujuran, dan pengabdian kepada masyarakat. Tokoh yang menerima Wahyu Trimanggolo digambarkan sebagai sosok yang mampu menjaga amanah, mengutamakan kepentingan rakyat, serta membawa kesejahteraan dan ketenteraman bagi lingkungan sekitarnya.

Melalui pementasan ini, masyarakat Desa Gandri berharap memperoleh berkah, keselamatan, dan kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. Selain itu, pesan-pesan moral yang terkandung dalam cerita wayang diharapkan dapat menjadi tuntunan bagi generasi muda agar tetap mencintai budaya bangsa dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan.

Supriyanto menegaskan bahwa keberhasilan penyelenggaraan bersih desa tidak lepas dari peran aktif seluruh masyarakat. Kehadiran warga dalam setiap rangkaian acara menjadi bukti kuatnya rasa memiliki terhadap desa serta komitmen bersama dalam menjaga tradisi leluhur.

“Kehadiran dan gotong royong seluruh warga adalah wujud cinta kepada tanah kelahiran. Tradisi nyadran ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi dan memperkuat persatuan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus melestarikan budaya yang telah diwariskan para pendahulu. Menurutnya, tradisi yang dijaga dengan baik akan menjadi identitas sekaligus kekuatan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan sejahtera.

Dengan mengusung semboyan “Rukun Wargane, Resik Desane, Berkah Uripe,” Pemerintah Desa Gandri berharap semangat kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan Bersih Desa 2026 dapat terus terjaga. Melalui doa bersama, slametan, dan pagelaran wayang kulit lakon “Wahyu Trimanggolo”, masyarakat berharap Desa Gandri senantiasa diberikan keamanan, ketentraman, kemakmuran, serta keberkahan bagi seluruh warganya.(Kurnia/Adv)