Nyadran Dusun Pojok dan Brangol Desa Grudo Lestarikan Tradisi Leluhur dan Kearifan Lokal

Nyadran Dusun Pojok dan Brangol Desa Grudo Lestarikan Tradisi Leluhur dan Kearifan Lokal

NGAWI , Ramahpublik.com– Tradisi budaya dan kearifan lokal terus dijaga masyarakat Desa Grudo, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi melalui pelaksanaan Nyadran Dusun Pojok dan Dusun Brangol. Kegiatan tahunan tersebut menjadi salah satu bentuk penghormatan masyarakat terhadap para leluhur sekaligus momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Nyadran Dusun Pojok dan Brangol merupakan tradisi bersih desa dan ziarah kubur yang dilaksanakan secara kolektif oleh masyarakat. Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Pelaksanaan Nyadran tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan adat, tetapi juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan, mendoakan para leluhur, serta mengingat kembali sejarah dan asal-usul wilayah yang menjadi tempat tinggal mereka.Jumat (7/8/2026)

Triono,ST Kepala Desa Grudo Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi

Di Desa Grudo, tradisi Nyadran Dusun Pojok dan Brangol berpusat di makam Mbah Tuan Glundung. Sosok Mbah Tuan Glundung diyakini masyarakat sebagai salah satu tokoh sesepuh atau cikal bakal yang memiliki keterkaitan dengan sejarah keberadaan wilayah setempat. Makam tersebut kemudian menjadi salah satu tempat yang memiliki nilai historis dan kultural bagi masyarakat.

Dalam pelaksanaan Nyadran, masyarakat datang secara bersama-sama untuk melakukan ziarah dan doa. Suasana kebersamaan begitu terasa karena warga dari berbagai kalangan ikut berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan. Tradisi tersebut sekaligus menjadi sarana untuk memperkuat hubungan sosial antarwarga Dusun Pojok dan Dusun Brangol.

Kegiatan Nyadran juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan bersih-bersih lingkungan makam dan kawasan sekitar. Gotong royong menjadi salah satu nilai utama yang terus dipertahankan. Warga bersama-sama membersihkan area makam, lingkungan dusun, serta berbagai fasilitas yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan adat.

Nilai gotong royong tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi memiliki nilai sosial yang kuat. Masyarakat diajak untuk saling membantu, menjaga kebersamaan, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan dan budaya yang diwariskan oleh para pendahulu.

Pemerintah Desa Grudo turut memberikan perhatian terhadap pelestarian tradisi Nyadran yang menjadi bagian dari identitas masyarakat. Desa Grudo saat ini dipimpin oleh Kepala Desa Triono, ST, dengan Sekretaris Desa Edy Ranto serta Kaur Keuangan Fitri Anggarsari.

Pemerintah desa bersama masyarakat berupaya agar tradisi tersebut tetap dapat dilaksanakan secara berkesinambungan. Pelestarian budaya lokal dinilai penting, terutama di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat dan masuknya berbagai budaya baru di tengah kehidupan masyarakat.

Bagi masyarakat Desa Grudo, Nyadran menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Anak-anak dan generasi penerus dapat mengetahui sejarah, tradisi, serta cerita yang berkembang di lingkungan tempat tinggalnya.

Hal tersebut menjadi penting agar generasi muda tidak kehilangan hubungan dengan akar budaya daerah. Dengan mengenal tradisi lokal, mereka diharapkan dapat tumbuh dengan kesadaran untuk ikut menjaga dan melestarikan warisan budaya yang dimiliki desa.

Keunikan lain dalam pelaksanaan Nyadran Dusun Pojok dan Brangol adalah adanya rangkaian kegiatan yang dipadukan dengan pertunjukan seni tradisional. Salah satunya adalah pentas Wayang Krucil atau Wayang Tenggul, yang menjadi bagian dari kekayaan seni tradisional masyarakat.

Pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi media untuk mempertahankan keberadaan kesenian tradisional. Di tengah perkembangan hiburan modern dan teknologi digital, keberadaan kesenian tradisional membutuhkan dukungan masyarakat agar tetap dikenal dan diminati oleh generasi muda.

Pementasan Wayang Krucil atau Wayang Tenggul dalam rangkaian Nyadran memberikan warna tersendiri bagi kegiatan adat tersebut. Warga dapat berkumpul menikmati pertunjukan seni sekaligus mengikuti kegiatan budaya yang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat.

Kesenian tradisional juga memiliki nilai edukasi karena di dalamnya terdapat cerita, pesan moral, serta gambaran kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pelaksanaan pertunjukan seni dalam kegiatan Nyadran dapat menjadi sarana pembelajaran budaya secara langsung bagi generasi penerus.

Tradisi Nyadran juga memperlihatkan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat Desa Grudo. Persiapan kegiatan dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara bersama-sama, mulai dari membersihkan lingkungan, menyiapkan lokasi, hingga mendukung pelaksanaan berbagai rangkaian acara.

Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat menjadi sarana untuk memperkuat persatuan masyarakat. Perbedaan latar belakang dan aktivitas sehari-hari tidak menjadi penghalang bagi warga untuk berkumpul dan bergotong royong dalam satu kegiatan bersama.

Selain memiliki nilai spiritual dan sosial, Nyadran juga memiliki potensi untuk mendukung pengembangan budaya dan pariwisata berbasis masyarakat. Keberadaan makam yang diyakini sebagai punden atau cikal bakal wilayah, ditambah tradisi tahunan dan kesenian tradisional, dapat menjadi bagian dari kekayaan budaya Desa Grudo.

Namun demikian, pengembangan budaya tetap perlu dilakukan dengan tetap menghormati nilai, norma dan keyakinan masyarakat setempat. Tradisi yang sudah diwariskan secara turun-temurun dapat terus dilestarikan dengan menyesuaikan pelaksanaannya terhadap perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai utama yang terkandung di dalamnya.

Kepala Desa Grudo Triono, ST, bersama jajaran pemerintah desa diharapkan terus mendorong keterlibatan generasi muda dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Keterlibatan anak muda menjadi salah satu kunci agar tradisi Nyadran tidak berhenti hanya pada generasi saat ini, tetapi dapat terus diwariskan pada generasi berikutnya.

Sementara itu, keberadaan Sekretaris Desa Edy Ranto dan Kaur Keuangan Fitri Anggarsari menjadi bagian dari jajaran pemerintah Desa Grudo yang mendukung penyelenggaraan berbagai kegiatan masyarakat, termasuk kegiatan sosial dan budaya yang dilaksanakan di tingkat dusun.

Melalui Nyadran Dusun Pojok dan Brangol, masyarakat kembali diingatkan akan pentingnya menjaga hubungan dengan sesama, menghormati sejarah dan leluhur, serta merawat lingkungan tempat tinggal. Tradisi tersebut menjadi ruang bersama untuk mengenang masa lalu sekaligus membangun semangat kebersamaan untuk kehidupan masyarakat ke depan.

Pelaksanaan Nyadran di Desa Grudo pada akhirnya bukan sekadar ritual tahunan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata pelestarian kearifan lokal, penguatan gotong royong, penghormatan terhadap sejarah desa, sekaligus upaya menjaga keberadaan seni tradisional.

Dengan terus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda, Nyadran Dusun Pojok dan Brangol diharapkan tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya Desa Grudo. Tradisi tersebut menjadi warisan berharga yang menghubungkan generasi masa lalu, masyarakat saat ini, dan generasi penerus di masa mendatang.(Kurnia/Adv)