Hadapi Musim Kemarau, Disperkim Ngawi Tingkatkan Layanan Air Bersih di Wilayah Sulit Air dengan Anggaran Rp1,3 Miliar
NGAWI , ramahpublik.com– Pemerintah Kabupaten Ngawi melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim) terus menunjukkan komitmennya dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya penyediaan air bersih di wilayah yang selama ini mengalami keterbatasan sumber air. Menghadapi musim kemarau tahun 2026, Disperkim Ngawi mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,3 miliar untuk meningkatkan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di sejumlah desa yang rawan kekeringan.
Program tersebut dipimpin oleh Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Ngawi, Maftuh Affandi, ST., MH., bersama Kepala Bidang Kawasan Permukiman, Pipit Dwi Herlina, sebagai bagian dari upaya memperkuat pelayanan air bersih bagi masyarakat di wilayah sulit air.Jumat (26/6/2026)
Melalui pendanaan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), peningkatan SPAM difokuskan di Desa Cantel dan Desa Gunungsari. Selain itu, Disperkim juga melakukan perluasan jaringan perpipaan di Desa Dampit agar semakin banyak warga yang dapat menikmati akses air bersih melalui sambungan rumah (SR).

Kepala Disperkim Ngawi, Maftuh Affandi, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan langkah strategis pemerintah daerah dalam mengantisipasi krisis air bersih yang hampir setiap tahun terjadi saat musim kemarau, terutama di kawasan yang masuk dalam zona non-Cekungan Air Tanah (CAT).
“Wilayah seperti Desa Cantel, Desa Gunungsari, dan Desa Dampit memiliki kondisi geografis yang menyebabkan ketersediaan air tanah sangat terbatas. Oleh karena itu, solusi yang kami lakukan adalah memperkuat sistem penyediaan air minum melalui jaringan perpipaan serta memanfaatkan sumber air baku yang tersedia,” ujarnya.
Menurut Maftuh, peningkatan SPAM di Desa Cantel dan Gunungsari bertujuan mengoptimalkan kapasitas distribusi air bersih yang selama ini telah dimanfaatkan masyarakat. Dengan peningkatan tersebut, diharapkan debit air yang diterima warga menjadi lebih stabil dan mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama saat musim kemarau berkepanjangan.
Sementara itu, di Desa Dampit, pembangunan difokuskan pada perluasan jaringan perpipaan sehingga cakupan pelayanan air bersih dapat menjangkau lebih banyak rumah tangga. Langkah ini menjadi bagian dari pemerataan akses layanan dasar yang menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten Ngawi.
Maftuh menjelaskan bahwa daerah non-CAT memiliki karakteristik geologi yang minim lapisan akuifer sehingga pengeboran sumur dalam tidak selalu memberikan hasil yang optimal. Selain membutuhkan biaya yang besar, risiko kegagalan mendapatkan sumber air juga cukup tinggi.
Sebagai solusi yang lebih efektif, Disperkim Ngawi memaksimalkan pemanfaatan sumber mata air dengan sistem gravitasi menuju reservoir desa. Sistem ini dinilai lebih efisien karena tidak memerlukan biaya operasional listrik yang tinggi serta lebih ramah terhadap pengelolaan jangka panjang.
“Apabila kondisi memungkinkan, sistem gravitasi dari mata air menjadi pilihan utama karena lebih hemat biaya operasional. Namun jika kondisi medan tidak memungkinkan, kami juga menyiapkan alternatif melalui sistem pemompaan dari sumber air permukaan,” jelasnya.

Selain pembangunan infrastruktur fisik, Disperkim Ngawi juga memberikan perhatian terhadap aspek pengelolaan. Kepala Bidang Kawasan Permukiman, Pipit Dwi Herlina, menegaskan pentingnya memperkuat kelembagaan Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) di setiap desa agar jaringan yang telah dibangun dapat dikelola secara profesional, berkelanjutan, dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Melalui penguatan kelembagaan tersebut, masyarakat diharapkan mampu menjaga, mengoperasikan, serta memelihara jaringan distribusi air bersih secara mandiri sehingga pelayanan tetap berjalan optimal meskipun pembangunan fisik telah selesai.
Program peningkatan SPAM ini menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian Pemerintah Kabupaten Ngawi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan rawan kekeringan. Ketersediaan air bersih tidak hanya menjadi kebutuhan pokok rumah tangga, tetapi juga berperan penting dalam mendukung kesehatan, sanitasi, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Dengan pembangunan infrastruktur air bersih yang berkelanjutan serta dukungan pengelolaan yang baik, Disperkim Ngawi berharap risiko krisis air bersih saat musim kemarau dapat terus ditekan. Pemerintah juga optimistis seluruh masyarakat di wilayah sulit air akan memperoleh akses air bersih yang lebih mudah, stabil, aman, dan berkualitas.
“Harapan kami, masyarakat di Desa Cantel, Gunungsari, Dampit, maupun wilayah rawan air lainnya dapat menikmati layanan air bersih yang lebih baik. Dengan demikian, kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi meskipun menghadapi musim kemarau yang panjang,” pungkas Maftuh Affandi.(Kurnia/Adv)

